Sabtu, 12 Mei 2012

Makalah ulumul qur'an


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Para ulama dan ahli tafsir terdahulu memberikan perhatian yang besar terhadap penyelidikan surat-surat Al-Qur’an. Mereka meneliti al-Qur’an ayat demi ayat dan surat demi surat untuk disusun sesuai dengan nuzulnya, dengan memperhatikan waktu, tempat dan pola kalimat. Bahkan lebih dari itu, mereka mengumpulkannya sesuai dengan waktu, tempat dan pola kalimat. Cara demikian merupakan ketentuan cermat yang memberikan kepada peneliti obyektif, gambaran mengenai penyelidikan ilmiah tentang ilmu Makkiyah dan Madaniyah.

Perhatian terhadap ilmu Al-Qur’an menjadi bagian terpenting para sahabat dibanding berbagai ilmu yang lain. Termasuk di dalamnya membahas tentang nuzulnya suatu ayat, tempat nuzulnya, urutan turunnya di Mekkah atau di Madinah, tentang yang diturunkan di Mekkah tetapi termasuk kelompok Madaniyah atau ayat yang diturunkan di Madinah tetapi masuk dalam kategori Makkiyah, dan sebagainya. Pada intinya persoalan ini telah menjadi perhatian urgen pada masa sahabat (Al-Qathathan, 1996:72).

Bahkan salah satu tokoh Mufassir pada masa sahabat, misalnya Ibn Abbas pernah menyatakan, “Demi Allah. Tidak Ada Tuhan selain Dia. Tidak diturunkannya satu ayat pun dari kitab Al-Qur’an, kecuali saya mengetahuinya. Di mana diturunkan, jika saya tahu, bahwa ada seseorang yang lebih tahu daripada saya tentang kitab Allah, meskipun misalnya itu disampaikan oleh Onta, niscaya saya akan mengunjunginya”. Pernyataan Ibn Abbas ini, bukan suatu ungkapan kesombongan tetapi merupakan pernyataan betapa besar perhatian Ibn Abbas terhadap Ilmu-ilmu Al-Qur’an.

Tema-tema seputar Makkiyah dan Madaniyah ini sangat banyak ragam penyelidikannya. Abu al-Qasim al Hasan al Muhammad bin Habib al-Nasyaburi menyebutkan dalam kitabnya al-Tanbib ‘ala fadll ‘Ulum al-Qur’an, bahwa di antara ilmu-ilmu al-Qur’an yang paling mulia adalah ilmu tentang nuzul al-Qur’an dan tempat turunnya, urutan turunnya di Mekkah dan di Madinah, tentang yang diturunkan di Mekkah tetapi masuk dalam kategori Madaniyahyah dan diturunkan di Madinah tetapi masuk dalam kategori Makkiyah, tentang yang diturunkan di Mekkah mengenai penduduk Madinah dan yang diturunkan di Madinah mengenai penduduk Mekkah, tentang yang serupa dengan yang diturunkan di Mekkah (Makkiyah) tetapi termasuk Madaniyahyah dan serupa dengan yang diturunkan di Madinah (Madaniyahyah) tetapi termasuk Makkiyah, dan tentang yang diturunkan di Juhafah, di Bayt al-Maqdis, di Tha’if maupun Hudaibiyyah. Demikian juga yang diturunkan di waktu malam, di waktu siang, secara bersamaan ataupun sendiri-sendiri. Ayat-ayat Makkiyah dan surat-surat Madaniyah atau sebaliknya dan seterusnya; tema-tema itu keseluruhan berjumlah tidak kurang dari 25 pokok bahasan. Kesemuanya itu terkumpul dalam satu ilmu yaitu Ilmu Makkiyah dan Madaniyah.

Tema-tema tersebut merupakan persoalan penting untuk didiskusikan dalam rangka mempeerdalam ilmu-ilmu al-Qur’an, namun demikian dalam tulisan ini tidak akan dibahas semuanya, melainkan hanya beberapa tema dasarnya saja yang dirasa sudah cukup sebagai pengantar. Hal demikian semata-mata memprtimbangkan keterbatasan tempat dan waktu. Dan bukan dalam artian memperkecil nilai tema-tema di atas.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang dan pembatasan tersebut, masalah-masalah yang dibahas dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.    Apa definisi atau pengertian dari surat Makkiyah dan Madaniyah?
2.    Bagaimana Klasifikasi ayat-ayat dan surat-surat Al-Qur’an?
3.    Bagaimana karakteristik masing-masing Makkiyah dan Madaniyah?
4.    Apakah Urgensi dan faedah Makkiyah dan Madaniyah?

C.      Tujuan
1.    Mengetahui definisi atau pengertian Makkiyah dan Madaniyah
2.    Mengetahui klasifikasi Surat Makkiyah dan Madaniyah
3.    Memahami ciri dan karakteristik dari Surat Makkiyah dan Madaniyah
4.    Memahami urgensi dan faedah mempelajari perbedaan Surat Makkiyah dan Madaniyah.


BAB II
PEMBAHASAN

A.      Definisi Surat Makkiyah dan Surat Madaniyah
Ada beberapa definisi tentang al-Makkiyah dan Madaniyah yang diberikan oleh para ulama yang masing-masing berbeda satu sama lain. Hal ini dikarenakan perbedaan orientasi yang menjadi dasar tinjauan masing-masing ulama tersebut.
Ada empat pendapat yang dikemukakan ulama tafsir dalam hal ini :

1.    Berdasarkan Tempat Turunnya Suatu Ayat.
 “ Makkiyah ialah suatu ayat yang diturunkan di Mekkah, sekalipun sesudah hijrah, sedang Madaniyah ialah yang diturunkan di Madinah”.

Berdasarkan rumusan di atas,Makkiyah adalah semua surat atau ayat yang dinuzulkan di wilayah Mekkah dan sekitarnya. Sedangkan Madaniyah adalah semua surat atau ayat yang dinuzulkan di Madinah. Definisi ini nampaknya mempunyai kelemahan, karena tidak mencakup ayat-ayat yang diturunkan diluar mekkah dan madinah, seperti di Tabuk (QS. Al-Taubah: 43 ) dan Bait Al-Maqdis pada malam Nabi isra’ (QS.Al-Zukhruf: 45).

2.    Berdasarkan Khittab/ Seruan/ Panggilan dalam Ayat Tersebut.
 “ Makkiyah ialah ayat yang khittabnya/panggilannya ditujukan kepada penduduk Mekkah, sedang Madaniyah ialah yang khittabnya/panggilannya ditujukan kepada penduduk Madinah”.

Berdasarkan rumusan di atas, para ulama menyatakan bahwa setiap ayat atau surat yang dimulai dengan redaksi  Ya Ayyuha an-Nas (wahai sekalian manusia) dikategorikan Makkiyah, karena pada masa itu penduduk Mekkah pada umumnya masih kufur. Sedangkan ayat atau surat yang dimulai dengan Ya Ayyuha al-Ladziina Aamanu (wahai orang-orang yang beriman) dikategorikan Madaniyah, karena penduduk Madinah pada waktu itu telah tumbuh benih-benih iman di dada mereka.

Definisi kedua ini, juga terdapat kelemahan, karena tidak semua ayat yang dimulai dengan Ya Ayyuha an-Nas adalah makkiyah, seperti surat An-Nisa’ adalah madaniyyah (QS.An-Nisa’:1). Demikian juga pada surat Al-Baqarah adalah madaniyyah, sekalipun didalamnya terdapat seruan dengan Ya Ayyuha An-Nas (QS.al-Baqarah : 21).

3.    Berdasarkan Masa Turunnya Ayat Tersebut.
 “ Makkiyah ialah ayat yang diturunkan sebelum Nabi hijrah ke Madinah, sekalipun turunnya di luar Mekkah, sedang Madaniyyah ialah yang diturunkan sesudah Nabi hijrah, sekalipun turunnya di Mekkah”.
Berdasarkan defenisi ini, maka ayat 3 dari surat Al-Maidah ( Alyauma Akmaltu lakum Diinukum…) adalah madaniyah, meskipun diturunkannya di arafah (makkah) pada hari jum’at ketika nabi melakukan haji wada’. Demikian pula ayat 58 dari surat an-nisa’ ( Innalloha Ya’murukum An Ta’udduu ) adalah madaniyah, sekalipun diturunkan di ka’bah (makkah) pada tahun pembebasan kota makkah.

4.    Berdasarkan Kandungan/Isi dari Surat/Ayat.
“Setiap surat yang didalamnya disebutkan hukum-hukum dan faraidh adalah madaniyyah, dan setiap surat yang didalamnya disebutkan peristiwa-peristiwa masa lalu adalah makiyyah”

            Dari keempat defenisi tersebut di atas, nampaknya yang lebih tepat adalah defenisi yang ketiga ini, namun perlu diakui, bahwa masing-masing dari keempat defenisi tersebut mengandung unsur yang bersamaan, yaitu : tempat/lokasi, sasaran/khitab, periode/waktu, isi/topik dari surat/ayat yang turun itu.

B.     Klasifikasi Ayat-Ayat dan Surat-Surat Al-Qur’an
Pada umunya, para ulama membagi surat-surat al-Qur’an menjadi dua kelompok, yaitu surat-surat Makiyyah dan Madaniyah. Mereka berbeda pendapat dalam menetapkan jumlah masing-masing kelompoknya. Sebagian ulama mengatakan bahwa jumlah surat Makiyyah ada 94 surat, sedangkan Madaniyah ada 20 surat. Sebagian ulama lain mengatakan bahwa jumlah surat Makiyyah ada 84 surat, sedangkan yang Madaniyah ada 30 surat.

Perbedaan-perbedaan pendapat para ulama itu dikarenakan adanya sebagian surat yang seluruhnya ayat-ayat Makkiyah atau Madaniyah dan ada sebagian surat lain yang tergolong Makiyyah atau Madaniyah, tetapi di dalamnya berisi sedikit ayat yang lain statusnya. Karena itu dari segi makiyyah dan madaniyyah ini, maka Surat-surat al-Qur’an itu terbagi menjadi empat macam :

1.    Surat-surat Makiyyah murni, yaitu surat-surat Makiyyah yang seluruh ayat ayatnya juga berstatus Makiyyah semua, tidak ada satupun yang Madaniyah. Surat-surat yang berstatus makiyyah murni ini, seluruhnya ada 58 surat, yang berisi 2.704 ayat. Contohnya, Surat Al-Fatihah,Yunus,Al-Ra’ad,dll.

2.    Surat-surat Madaniyah murni, yaitu surat-surat Madaniyah yang seluruh  ayat-ayatnya juga berstatus Madaniyah semua, tidak ada satupun yang Makiyyah. Surat-surat madaniyyah murni seluruhnya menurut penelitian abdul djalal h.a (1988:99) ada 18 surat yang terdiri dari 737 ayat. Contohnya, surat Ali-Imran, an-Nisa’, Al-Nur, dll.

3.    Surat-surat Makiyyah yang berisi ayat Madaniyah, yaitu surat-surat yang sebetulnya kebanyakan ayat-ayatnya adalah Makiyyah, sehingga berstatus Makiyyah, tetapi di dalamnya ada sedikit ayatnya yang berstatus Madaniyah. Surat-surat yang demikian ini dalam Al-Qur’an ada 32 surat, yang terdiri dari 2699 ayat. Contohnya, Surat al-An’am, al-A’raf, Hud,dll.
4.    Surat-surat Madaniyah yang berisi ayat Makiyyah, yaitu surat-surat yang sebetulnya kebanyakan ayat-ayatnya adalah Madaniyah, sehingga berstatus Madaniyah, tetapi di dalamnya ada sedikit ayatnya yang berstatus Makiyyah. Surat-surat yang demikian ini dalam Al-Qur’an ada 6 surat yang terdiri dari 726 ayat, yaitu Surat al-Baqarah,al-Maidah,al-Anfal,dll.

Dari keempat macam klafisikasi surat-surat tersebut diatas, terkumpul 114 surat dan 6236 ayat, yaitu seluruh isi Al-Qur’an.

C.      Ciri dan Karakteristik Makiyyah dan Madaniyah
Para ulama telah menetapkan karakteristik Makiyyah dan Madaniyah sebagai berikut :
a.        Ciri dan Karakteristik Surat Makiyyah
Ada beberapa ciri dan karakteristik yang dimiliki Makiyyah di antaranya
1.    Didalamnya terdapat kata kalla  كلاَّّ seperti :
كَلاَّ اِنَّهَا لَظَى
Artinya :
Sekali-kali tidak dapat, sesungguhnya neraka itu adalah api yang bergejolak “ ( Q.S. Al-Ma’arij : 15 ).
2.    Setiap surat yang di dalamnya terdapat ayat Sajdah termasuk Makiyyah. Seperti dalam surat Al-A’raf ayat 206.
3.    Setiap surat yang di dalamnya terdapat kisah para Nabi dan umat-umat terdahulu termasuk Makiyyah, kecuali surat al-Baqarah dan Ali ‘Imran yang keduanya termasuk Madaniyah. Adapun surat al-Ra’d yang masih diperselisihkan. Contoh : surat Yunus,Hud,Ibrahim,dll.
4.    Setiap surat yang dimulai dengan huruf abjad, alphabet (Tahjjiy) ditetapkan sebagai Makiyyah, kecuali Alif Lam Mim pada surat Al-Baqarah dan Ali ‘Imran. Sebab keduanya adalah madaniyah.
5.    Mengandung seruan (nida’) untuk beriman kepada Allah dan hari kiamat dan apa-apa yang terjadi di akhirat. Di samping itu, ayat-ayat Makiyyah ini menyeru untuk beriman kepada para rasul dan para malaikat serta menggunakan argumen-argumen akal, kealaman dan jiwa. Dengan ungkapan Ya Ayyuha al-Nas atau Ya Ayyuha al-Kafirun atau Ya Bani Adam.
6.    Membantah argumen-argumen kaum Musyrikin dan menjelaskan kekeliruan mereka terhadap berhala-berhala mereka.
7.    Mengandung seruan untuk berakhlak mulia dan berjalan di atas syariat yang hak tanpa terbius oleh perubahan situasi dan kondisi, terutama hal-hal yang berhubungan dengan memelihara agama, jiwa, harta, akal, dan keturunan.
8.    Terdapat banyak redaksi sumpah dan ayatnya pendek-pendek. Contohnya, Al-‘Ashr, Asy-Syams, Adh-Dhuhaa, dll.

b.        Ciri dan Karakteristik Surat Madaniyah
Seperti halnya dalam Makiyyah, Madaniyah pun mempunyai ciri-ciri karakteristik :
1.    Setiap surat yang berisi hukum pidana, hukum warisan, hak-hak perdata dan peraturan-peraturan yang berhubungan dengan perdata serta kemasyarakatan dan kenegaraan, termasuk Madaniyah. Contohnya : surat al-Baqarah,an-Nisa’,al-Maidah,dll.
2.    Setiap surat yang mengandung izin untuk berjihad, urusan-urusan perang, hukum-hukumnya, perdamaian dan perjanjian, termasuk Madaniyah. Contohnya : surat al-Baqarah,at-Taubah,dll.
3.    Setiap surat yang menjelaskan hal ihwal orang-orang munafik termasuk Madaniyah, kecual surat Al-Ankabut yang di nuzulkan di Makkah. Hanya sebelas ayat pertama dari surat tersebut yang termasuk Madaniyah dan ayat-ayat tersebut menjelaskan perihal orang-orang munafik. Contoh : surat al-Ahzab,al-Hadid,al-Munafiqun.dll.
4.    Menjelaskan hukum-hukum amaliyyah dalam masalah ibadah dan muamalah, seperti shalat, zakat, puasa, haji, qisas, talak, jual beli, riba, dan lain-lain. Contoh : Ali-‘Imran,Al-Maidah,dll.
5.    Sebagian surat-suratnya panjang-panjang, sebagian ayat-ayatnya panjang-panjang dan gaya bahasanya cukup jelas dalam menerangkan hukum-hukum agama.
6.    Berisi dakwah (seruan) kepada orang-orang yahudi dan nasrani serta penjelasan akidah-akidah mereka yang yang menyimpang. Contoh: al-Hujarat, al-Fath,dll.
7.    Berisi ayat-ayat nida’ (panggilan) yang ditujukan kepada penduduk madinah yang islam, yaitu : Ya Ayyuha al-Ladziina aamanu.

D.      Kegunaan ilmu Makkiyah wal Madaniyah
Kegunaan ilmu / faedah ilmul Makkiyah wal Madaniyah adalah banyak sekali. Dalam hal ini, al-Zarqani di dalam kitabnya manahilul ’irfan menerangkan sebagian daripada kegunaan ilmu-ilmu ini, ialah :
a.    Dengan ilmu ini kita dapat membedakan dan mengetahui ayat yang mana yang mansukh dan nasikh. Yakni apabila terdapat dua ayat atau lebih mengenai suatu masalah, sedang hukum yang terkandung di dalam ayat-ayat itu bertentangan. Kemudian dapat diketahui bahwa ayat yang satu Makkiyah, sedang ayat lainnya Madaniyah maka sudah tentu ayat yang Makkiyah itulah yang di mansukh oleh ayat yang Madaniyah, karena ayat yang Madaniyah adalah yang terakhir turunnya.
b.    Dengan ilmu ini pula, kita dapat mengetahui Sejarah Hukum Islam dan perkembangannya yang bijaksana secara umum. Dan dengan demikian, kita dapat meningkatkan keyakinan kita terhadap ketinggian kebijaksanaan islam di dalam mendidik manusia baik secara perorangan maupun secara masyarakat.
c.    Ilmu ini dapat meningkatkan keyakinan kita terhadap kebesaran, kesucian, dan keaslian al-Qur’an, karena melihat besarnya perhatian umat islam sejak turunnya terhadap hal-hal yang berhubungan dengan al-Qur’an, sampai hal-hal yang sedetail-detailnya, sehingga mengetahui ayat-ayat yang mana turun sebelum hijrah dan sesudahnya; ayat-ayat yang diturunkan pada waktu Nabi berada di kota tempat tinggalnya (domisilinya) dan ayat yang turun pada waktu Nabi sedang dalam bepergian atau perjalanan; ayat-ayat yang turun pada malam hari dan siang hari; dan ayat-ayat yang turun pada musim panas dan musim dingin dan sebagainya.
d.   Dapat mengetahui situasi dan kondisi lingkungan masyarakat pada waktu turunnya Al Qur’an, khususnya masyarakat Makkah dan Madinah.
e.    Agar kita dapat mengetahui fase-fase Islamiyyah yang telah ditempuh oleh al-Qur’an secara bertahap dan sangat bijaksana.
f.     Agar kita dapat mengetahui uslub-uslub/gaya bahasanya yang berbeda-beda, mengingat ayat-ayat itu diturunkan/ditujukan untuk beberapa golongan yang berbeda-beda, yakni : orang-orang mukmin, orang-orang musyrik/kafir, oran-orang ahli kitab dan termasuk pula orang-orang yang munafik.

Demikianlah beberapa faedah atau kegunaan mempelajari ilmu al-Makkiy dan al-Madaniy yang merupakan satu cabang ‘Ulum al-Qur’an yang sangat penting diketahui dan dikuasai oleh para muffasir al-Qur’an, sehingga ia ada diantara ulama Muhaqqiqin, seperti Abu al-Qosim al-Naisaburi (w.406 H.). Tidak membenarkan seorang menafsirkan al-qur’an tanpa mengetahui ilmu ini.



BAB III
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Pengetahuan tentang ayat-ayat Mekkah dan Madinah merupakan bagian yang terpenting dalam ‘Ulum Qur’an. Hal ini bukan saja merupakan kepentingan kesejarahan melainkan juga untuk memahami dan menafsirkan ayat-ayat yang bersangkutan.
Sebagaian surat di dalam al-Qur’an berisi ayat-ayat dari kedua periode tersebut dan dalam beberapa hal muncul perbedaan pendapat dari kalangan para ulama tentang klasifikasi ayat-ayat tertentu.
Bagaimanapun juga secara keseluruhan memang sudah berhasil disusun suatu pola pemisahan (pembagian) yang sudah mapan, dan telah digunakan secara meluas secara ilmu tafsir, dan dijabarkan dari bukti-bukti internal yang ada dalam teks al-Quran itu sendiri.
Definisi Al-Makiyyah dan Madaniyah oleh para ahli tafsir meliputi berdasarkan tempat turunnya suatu ayat, berdasarkan khittab/ seruan/ panggilan dalam ayat tersebut, berdasarkan masa turunnya ayat tersebut.
Surat-surat al-Qur’an itu terbagi menjadi empat macam antara lain : Surat-surat Makiyyah murni, Surat-surat Madaniyah murni, Surat-surat Makiyyah yang berisi ayat Madaniyah, Surat-surat Madaniyah yang berisi ayat Makiyyah.
Karakteristik surat dan ayat-ayat Al-Qur’an ini terbagi menjadi dua yaitu karakteristik Makkiyahdan karakteristik Madaniyah.
Adapun kegunaan mempelajari Ilmu ini antara lain agar dapat membedakan ayat-ayat nasikh dan mansukh, agar dapat mengetahui sejarah hukum Islam dan tahapan-tahapannya secara umum, mendorong keyakinan yang kuat, agar mengetahui fase-fase dakwah Islamiyah yang telah ditempuh oleh Al-Qur’an secaa bertahap, agar dapat mengetahui keadaan lingkungan, situasi, dan kondisi masyarakat pada waktu turun ayat-ayat Al-Qur’an, agar mengetahui gaya bahasanya yang berbeda-beda.


DAFTAR PUSTAKA

Chalik, Chaerudji Abd. 2007. ‘Ulumul Qur’an. Jakarta. Diadit Media
Syaifullah. 2004. ‘Ulumul Qur’an. Ponorogo. Prodial Pratama Sejati Press.
Von Dennfer, Ahmad 1988. ‘Ilmu Al-Quran’. Jakarta. Rajawali
Quthan,Mana’ul. 1993. ‘Pembahasan Ilmu Al-Quran’. Jakarta. Rineka Cipta
Zuhdi, Masjufuk. 1982. ‘Pengantar ulumul Quran’. Surabaya. Bina Ilmu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar